Cara Menggali Potensi Kecerdasan Anak Sejak Usia Dini



Adapun rentang penggalian itu bisa dimulai sejak usia 1 tahun dan paling lambat usia 12 tahun. Semakin awal kita mengetahuinya akan semakin baik bagi kita untuk mengambil keputusan dan mengarahkan anak kita pada bidang/profesi yang kelak akan membawa sukses bagi dirinya.

Namun demikian sebelum saya menjelaskan caranya; kita perlu pahami bersama bahwa yang dimaksud dengan “Kecerdasan” dalam konteks Multiple Intelligence adalah bukan kemampuan yang bagus hanya pada bidang-bidang yang bersifat Akademis saja, melainkan pada semua bidang kehidupan. Karena pada dasarnya setiap anak di rancang oleh TuhanNya untuk mengisi berbagai bidang kehidupan yang berbeda dan spesifik yang menjadi keunggulannya, tidak terbatas hanya pada bidang/profesi yang sebagian besar kita kenal selama ini, yakni Dokter, Insinyur, Pilot, Presiden dsb, melainkan jauh lebih luas lagi. Itulah sebabnya mengapa dalam satu keluarga kita memiliki anak yang cendrung berbeda-beda dalam banyak hal, termasuk bidang-bidang yang diminatinya.

Pada saat konsep ini mulai di perkenalkan di Amerika pada tahun 90-an, maka efeknya telah di rasakan bahwa banyak anak-anak di negara maju yang pada akhirnya memilih bidang yang sangat bervariasi dan spesifik, yang menjadi keunggulannya, sehingga mereka menjadi orang yang sangat ahli dan bisa berkiprah di negara mana saja, karena kualifikasinya sudah berada pada standar Internasional. Lihatlah betapa orang-orang di negara maju begitu unggul mulai dari bidang oleh raga, sains, sosial, ekonomi, seni dan sebagainya. Sementara tanpa kosep Multiple Intelligence biasanya kita para orang tua cenderung mengarahkan anak kita pada bidang-bidang tertentu yang kita anggap bisa memberi kecukupan finansial.

Konsep Multiple Intelligence memandang bahwa Kecukupan Financial bukanlah Tujuan, melainkan Efek dari profesi yang tepat dari keahlian terbaik yang dimiliki seorang anak. Siapapun dengan profesi apapun apa bila dia menjadi orang yang terbaik di bidangnya maka secara otomatis akan mendapatkan efek finansial yang sangat baik bagi diri dan profesinya. Jadi konsepsi Multiple Intelligence adalah membantu anak menemukan bidang yang sangat diminatinya serta mendukungnya untuk menjadi yang terbaik pada bidang tersebut.

Oleh karena itu proses penggalian akan dimulai dengan mengetahui bidang-bidang apa yang menjadi minat terbesar anak kita. Memang benar dalam usia dini seorang anak cenderung berpindah dan berganti-ganti minat, namun jika kita sabar dan telaten untuk mencatat dan membimbingnya maka lambat laun akan kita temukan minat yang benar-benar konsisten yang ditunjukan anak kita.


Penemuan Minat terbesar ini merupakan titik kunci dan akan kita uji dengan bakat yang dimikinya, artinya apabila anak kita meminati suatu bidang, apakah ia juga cepat sekali menguasai bidang yang diminatinya tersebut. Jika kedua hal tersebut saling melengkapi, maka itulah yang dimaksud sebagai potensi dasar anak yang siap di kembangkan untuk menjadi profesinya kelak. Baru setelah itu orang tua bisa menentukan langkah strategis, jalur pendidikan apakah yang paling cocok ditempuh untuk menjadikan anaknya yang terbaik dibidang tersebut.

Proses pencarian ini akan sangat berbeda antara satu anak dengan lainnya, bisa memakan waktu mulai 1 tahun hingga 12 tahun. Tergantung pada banyaknya Stimulasi yang diberikan orang tuanya. Tapi jika kita sudah menemukannya, maka segeralah kita memutuskan untuk mengambil jalur pendidikan yang tepat.

Salah satu contoh konkret di Indonesia adalah Kevin Suherman, putera dari Priyatna Suherman. Pada usia 6 tahun Kevin sudah menunjukkan minatnya yang besar pada bidang seni musik klasik. Dan Priyatna Suherman dengan berani memfasilitasi Kevin untuk hanya fokus mempelajari Musik Klasik dengan Piano. Dalam usia 12 tahun, Kevin sudah menjadi Pianis Cilik Kelas Dunia yang berhasil memegang Rekor Muri, memainkan 30 lagu klasik tanpa partitur. Dan kini Kevin mendapatkan Bea Siswa Penuh dari Pemerintah Australia untuk melanjutkan sekolah Bahasa dan Musik di negeri Kanguru tersebut.

Demikian juga yang terjadi pada Maria Sharapova, petenis puteri dunia. Maria yang pada waktu itu masih berusia 6 tahun dan tinggal di Rusia, tanpa sengaja suatu ketika Martina Navratilova (petinis dunia) berkunjung ke sekolahnya, melihat bakat yang luar biasa pada anak ini ketika ia bersekolah dasar. Kemudian Martina menawarkan orang tuanya untuk di ijinkan membawa Maria Sharapova melanjutkan sekolahnya di sekolah Tenis Bollitary di Amerika Serikat. Singgkat cerita Maria Sharapova bersekolah di AS, dan pada usia 15 tahun Maria Sharapova sudah menjadi juara Tennis Japan Open dan pada usia 17 tahun berhasil menjadi juara Tennis Wimbledon.