Suatu ketika di Amerika
Serikat tengah berlangsung sebuah konfrensi besar pendidikan, dihadiri
oleh sebagian besar kalangan pendidikan, mulai dari pengamat, praktisi,
pakar hingga penentu kebijakan dibidang pendidikan.
Tema yang diambil. kali itu adalah mengenai “Evaluasi Sistem Pendidikan dalam Menghasilkan Generasi Unggul”. Tema ini sengaja diangkat, karena ternyata berdasarkan penelitian,
selama 60 terakhir sistem pendidikan lebih banyak menghasilkan generasi
yang gagal dan bahkan cenderung bermasah ketimbang yang unggul. Banyak sekali tokoh-tokoh yang diminta bicara menyampaikan pikiran, pandangan juga hasil penelitian mereka.
Dari semua pembicara, ada salah seorang yang pemaparannya begitu
dahsyat, tajam dan mengena, hingga mendapatkan simpati dan dukungan yang
luar biasa dari hampir semua peserta konferensi tersebut.
Tepuk
tangan yang riuh serta dukungan antusiasme terus mengalir hingga sang
pembicara ini turun. Apa saja yang di paparkan oleh si pembicara ini…?
marilah kita simak cuplikan utama dari pemaparannya;
“Saudara-saudaraku tercinta sebangsa dan setanah air, saya sungguh
prihatin melihat perkembangan generasi kita dari tahun ke tahun,
sehingga saya begitu tertantang untuk membuat suatu pengamatan untuk
mengetahui akar pemasalahannya.”
“Lebih dari 30 tahun saya
melakukan pengamatan terhadap para pelajar dan para lulusan sekolah di
tiap jenjang mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. dan
ternyata dari tahun-ke tahun menunjukkan suatu peningkatan grafik jumlah
anak-anak yang bermasalah ketimbang anak-anak yang berhasil.”
Salah satu yang membuat saya menangis adalah ketika saya mengunjungi
beberapa Lembaga Pemasyarakatan yang ada di beberapa negara bagian; yang
dulu pada tahun 60an mayoritas di huni oleh orang-orang yang berusia
antara 40-60an, namun apa yang terjadi pada tahun 90, penjara-penjara
kita penuh di isi oleh anak remaja antara usia 14 s/d 25 tahun. Jumlah
peningkatan yang drastis juga terjadi pada penjara anak dan remaja.
Fenomena apakah gerangan yang sedang terjadi di negara kita……? Akan
jadi apakah kelak negara ini jika kita semua tidak mengambil peduli dan
merasa bertanggung jawab…?
Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah
air….., Dari pengamatan panjang yang saya lakukan akhirnya saya
mengetahui bahwa sumber dari semua masalah ini ada pada Harmonisasi
hubungan Keluarga dan Sistem Pendidikan kita.
Sebagian besar
anak-anak yang bermasalah ternyata juga memiliki orang tua yang
bermasalah atau keluarga yang berantakan dan yang memperparah ini semua
adalah bahwa Lembaga yang kita agung-agungkan selama ini, yang kita
sebut sekolah ternyata sama sekali tidak mampu menjadi jalan keluar bagi
anak-anak yang mengalami permasalahan di rumah.
Sekolah yang
mestinya bertanggung jawab pada pendidikan anak (kerena mengklaim
sebagai lembaga pendidikan) ternyata sama sekali tidak melakukan proses
pendidikan, melainkan hanya menjadi lembaga yang memaksa anak untuk
mengikuti kurikulum yang kaku dan sudah ketinggalan zaman. Guru-guru
yang diharapkan menjadi pengganti orang tua yang bermasalah tapi
ternyata tidaklah lebih baik dari pada orang tua si anak yang bermasalah
tadi. Guru lebih suka memberikan pelajaran dari pada mendidik dan
melakukan pendekatan psikologis untuk bisa membantu memecahkan masalah
anak-anak muridnya. Guru-guru juga lebih suka saling melempar
tanggungjawab ketimbang merasa ikut bertanggung jawab sebagai seorang
pendidik.
Dan yang sungguh menyakitkan adalah ternyata Pemerintah
kita khusunya yang bertanggung jawab pada bidang pendidikan hanya
mementingkan masalah nilai, angka-angka dan Ujian-Ujian Tulis.
Pemerintah seolah menutup mata terhadap menurunya prilaku moral,
rusaknya anak-anak sekolah dan meningkatnya prilaku kekerasan di
kalangan remaja.
Ukuran keberhasilan pendidikan lebih diletakkan
pada menjawab soal-soal ujian dan target-target perolehan nilai, bukan
pada Indikator Moral dan Pengembangan Karakter Anak. Sehingga pada
akhirnya kita mendapati banyaknya anak-anak yang mendapat nilai tinggi
namun moralnya justru begitu rendah.
Inilah saya pikir yang
menjadi biangkeladi dari permasalahan meningkatnya jumlah anak-anak yang
menjadi penghuni penjara di hampir seluruh negara bagian di negara
kita.
Saya melihat bahwa sesunguhnya jauh lebih penting
mengajarakan anak kita Nilai Kejujuran dari pada Nilai matematika,
Fisika dan sejinisnya, yang pada umumnya telah membuat anak kita stress
dan mulai membeci sekolahnya. Sungguh jauh lebih penting mengajarkan
pada mereka tentang kerjasama dan saling tolong menolong ketimbang
persaingan merebut posisi juara di kelas. Sekolah kita hanya mampu
membuat 3 anak sebagai juara ketimbang membuat mereka semua menjadi
juara. Sekolah kita memang tanpa sadar telah dirancang untuk mencetak
anak yang gagal jauh lebih banyak dari yang berhasil. Sekolah kita juga
telah dirancang untuk lebih banyak memberi lebel anak yang bermasalah
ketimbang memberi lebel anak yang berpotensi unggul di bidangnya.
Lihatlah fakta di lapangan, betapa banyaknya anak-anak yang dinyatakan
oleh sekolah sebagai anak lambat belajar, tidak bisa berkonsentrasi,
Diseleksia, Hiperaktif dsb. Hingga ada seorang pengamat pendidikan yang
pernah menyindir “sesungguhnya anaknya yang hiperaktif atau sekolahnya
yang “Hiper Pasif”. Bayangkan anak-anak kita telah di paksa untuk duduk
di kursi yang keras selama berjam-jam dari pagi hingga petang, tanpa
adanya pergerakan sedikitpun. Yang sesungguhnya tidak hanya membahayakan
mental mereka bahkan juga fisik mereka. Berapa banyak anak-anak kita
yang katanya termasuk golongan anak-anak pandai harus menderita
“bungkuk” di usia mereka yang masih relatif muda karena proses belajar
yang hiper pasif ini.
Saya pikir sudah saatnya kita sadar akan
hal ini semua. Saudara-saudaraku tercinta, sungguh berdasarkan
penelitian yang saya lakukan telah menunjukkan bahwa jauh lebih penting
mengajari anak kita tentang moral, attitude, dan Character Building dari
pada hanya mementingkan nilai-nilai yang tinggi. Karena kehidupan lebih
mengharapkan orang-orang yang bermoral dan berkarakter untuk membangun
tatanan kehidupan yang jauh lebih baik. Orang-orang yang mencintai
sesama, menolong sesama dan menjaga kelestarian lingkungan tempat mereka
hidup.
Berdasarkan penelitian saya terhadap sejarah
bangsa-bangsa yang mengalami kemunduran atau kehancuran, saya telah
menemukan ciri-ciri yang sangat jelas untuk bisa kita jadi kan Indikator
dan petunjuk bagi kita apakah negara kita juga sedang menuju ke titik
kemajuan atau justru ke hancuran.
Paling tidak saya telah
menemukan ada 10 tanda-tanda dari suatu bangsa yang akan mengalami
kemunduran dan bahkan kehancuran; dan jika ternyata ke sepuluh tanda ini
muncul di negara kita maka sudah saatnyalah kita untuk melakukan
perubahan besar-besaran terhadap sistem pendidikan bagi anak-anak kita.
Mari kita teliti bersama kesepuluh tanda-tanda tersebut, apakah telah muncul di negara kita;
1. Peningkatnya prilaku kekerasan dan merusak dikalangan remaja, Pelajar
2. Penggunaan kata atau bahasa yang cenderung memburuk (seperti ejekan, Makian, celaan, bhs slank dll)
3. Pengaruh Teman Jauh lebih kuat dari pada orang tua dan guru.
4. Meningkatnya prilaku penyalahgunaan sex, merokok dan obat-obat telarang dikalangan pelajar dan remaja.
5. Merosotnya prilaku moral dan meningkatnya egoisme pribadi/mementingkan dirisendiri.
6. Menurunya rasa bangga, cinta bangsa dan tanah air (Patriotisme).
7. Rendahnya rasa hormat pada orang lain, orang tua dan guru.
8. Meningkatnya prilaku merusak kepentingan Publik.
9. Ketidak Jujuran terjadi dimana-mana
10. Berkembangnya rasa saling curiga, membenci dan memusuhi diantara sesama warga negara (kekerasan SARA)
2. Penggunaan kata atau bahasa yang cenderung memburuk (seperti ejekan, Makian, celaan, bhs slank dll)
3. Pengaruh Teman Jauh lebih kuat dari pada orang tua dan guru.
4. Meningkatnya prilaku penyalahgunaan sex, merokok dan obat-obat telarang dikalangan pelajar dan remaja.
5. Merosotnya prilaku moral dan meningkatnya egoisme pribadi/mementingkan dirisendiri.
6. Menurunya rasa bangga, cinta bangsa dan tanah air (Patriotisme).
7. Rendahnya rasa hormat pada orang lain, orang tua dan guru.
8. Meningkatnya prilaku merusak kepentingan Publik.
9. Ketidak Jujuran terjadi dimana-mana
10. Berkembangnya rasa saling curiga, membenci dan memusuhi diantara sesama warga negara (kekerasan SARA)
Bagaimana kesimpulan kita….? Apakah kita melihat ke 10 tanda tersebut
telah muncul di negeri tercinta kita ini…? atau mungkin malah sudah
muncul pada anak-anak kita tercinta dirumah…?
Saudaraku…., dengan
melihat fakta dan kenyataan yang ada, wahai para pendidik dan pengambil
kebijakan di bidang pendidikan serta segenap kita semua; Apakah kita
masih akan mementingkankan angka-angka sebagai Indikator kesuksesan
Pendidikan di sekolah-sekolah..?
Semoga logika dan nurani kita
masih mampu bicara untuk mendobrak sistem pendidikan yang selama ini
terbukti telah menghasilkan lebih banyak kegagalan bagi anak-anak
tercinta.
Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air…., Jika kita
tidak juga mau bertindak…., maka saya tidak tahu berapa banyak lagi
penjara-penjara yang harus kita bangun bagi anak-anak kita tercinta,
yang semestinya ini semua bisa kita cegah dari sekarang..!
Melalui Harmonisasi Hubungan Keluarga dan Sekolah-sekolah yang lebih
berorientasi membangun moral dan bukan hanya angka-angka semata.
Thomas Lickona.
