Pentingnya Menjaga Pola Pikir Positif Dalam Mendidik Anak



Sebagian besar para ilmuan adalah orang2 yg sangat sabar. Bayangkan Thomas Edison dengan sabarnya melakukan percobaan dari satu logam ke logam berikutnya agar bisa digunakan untuk lampu pijar, dia terus menerus coba hingga percobaan yg ke 1000 baru dia berhasil.

Bayangkan Michael Jordan memasukkan bola ke Ring Basket dari satu bola hingga 5000x dalam sehari.

Bayangkan Tiger Woods mengulangi ayunan stick golfnya 1000 kali berulang2 dalam sehari dan setiap hari dia lakukan hingga pukulannya di anggap tepat sasaran.

Mengapa mereka semua bisa sesabar itu....? Jawabannya adalah ada pada pikiran mereka, kesabaran adalah produk cara berpikir... bila cara berpikir mereka salah maka yg muncul adalah kemarahan. Itulah mengapa dalam setiap Tournament Golf, Tiger Woods selalu di dampingi oleh seorang Psikolog untuk tetap menjaga pikirannya agar selalu positif.

Dari mana munculnya pikiran...?
Pikiran kita muncul dari pertanyaan yg kita ajukan dalam bathin kita. Jika jenis pertanyaan yg kita ajukan keliru maka yg muncul adalah kemarahan atau reaksi yg keliru juga.

Pada saat Edison gagal melakukan percobaan maka dia memunculkan pertanyaan,

”Bagaimana caranya ya agar sy bisa menciptakan logam yg cocok untuk lampu listrik dan bisa tetap nyala selama berhari-hari...?”

Kemudian yang kedua adalah pada saat ia gagal dengan percobaanya , Edison selalu memunculkan pikiran : ”Aha.... akhirnya aku menemukan satu lagi logam yg tidak cocok untuk lampu listrik”

Bayangkan jika pertanyaan bathin yg di ajukan oleh Edison waktu itu adalah....

”Sepertinya memang nggak ada logam yg cocok dech untuk lampu listrik, buktinya aku sudah coba sampe 999 kali gagal terus..!!!!”

Dan bayangkan pada saat dia gagal, seandainya yg dimunculkan adalah pikiran seperti ini:

”Mengapa ya kok sulit sekali...? Mengapa ya aku kok gak pernah berhasil setiap mencoba...? Untuk apa aku mencoba terus ya kalo hasilnya gagal lagi dan gagal lagi...?”

Jika Edison mengajukan yg keliru seperti itu, Mungkin anda akan bisa menebak apa efeknya...?

Begitu juga kita dengan anak kita, kemarahan kita pada anak sering kali disebabkan oleh Pikiran2 yg salah dan keliru dalam melihat prilaku mereka.

Pikiran2 yg salah dan keliru ini sering kali bersumber dari PERTANYAAN2 YG SALAH DAN KELIRU yg kita buat di dalam bathin kita.


Contohnya:

Pada saat anak susah sekali diminta untuk mandi...

Jika pertanyaan yg kita munculkan dalam bathin adalah....
”Duh... kenapa ya anak ini susah sekali di atur....? Emang gak tau ya kalau orang tuanya lagi repot...?”

Atau ”Kenapa sich kamu ini di suruh mandi aja susah banget...?

Coba jika pertanyaan bathinnya kita ganti menjadi...

”Eh.. bagaimana ya agar anakku tuh kalo di suruh mandi gampang.....?”
Atau....
”Dari mana ya aku bisa belajar bagaimana sich caranya supaya anakku nurut sama aku...?”
Menurut anda.... pertanyaan manakah yg lebih memancing munculnya EMOSI...?
Dan pertanyaan manakah yg lebih memancing munculnya SOLUSI..?

Begitu juga bila kita telah membaca buku, mendengarkan talkhsow atau apa saja, kemudian mencoba mempraktekannya dirumah... tapi ternyata belum juga berhasil atau membuahkan hasil......

Bayangkan apa yg terjadi jika yg kita munculkan di pikiran adalah:

”Ah... ngomong sich gampang..., tapi prakteknya gak segampang itu..!!! tuh lihat saja buktinya aku udah coba berulang2, mana ...? kok gak ada hasilnya...?”

Coba bayangkan jika cara berpikir kita seperti Thomas Edison...., yg jika setiap kali gagal akan berkata: ” Ahkirnya aku temukan lagi satu cara yg salah dan keliru dalam mendidik anak agar mau nurut dan mudah di ajak kerja sama” terus kita ajukan hingga akhirnya kita menemukan cara yg benar...

Jadi mulai hari ini, Apakah kita akan tetap menjadi orang tua yg suka marah.... atau menjadi orang tua yg lebih sabar, itu semua tergantung pada pikiran yg anda ciptakan...

Jadi tidak tepat bila kita berkata...” Kamu ini memang selalu bikin MARAH MAMA saja !!!!”

Karena sebenarnya yg bikin marah MAMA bukanlah prilaku anak kita, tapi PIKIRAN mana yg kita pilih untuk merespon prilaku-prilaku anak kita.